Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sunnah

In! Mengenal Awal ASWAJA

ISTILAH Ahlus Sunnah wal Jama'ah telah dibahas panjang lebar oleh para ulama dan pengkaji ilmu, sejak dulu sampai sekarang. Hal ini membuktikan bahwa ia bukanlah sesuatu yang asing dalam khazanah ilmiah keislaman. Jika ada seorang ahli ilmu yang merasa tidak pernah mendengar istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah , maka diragukan kredibilitas ilmunya. Istilah itu tak ubahnya seperti istilah Aqidah, Syariah, Tauhid, Fiqih, Hadits, Muamalah, dan lain-lain yang populer dalam kajian ilmu. Untuk memahami definisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah , ada sebuah tulisan bagus yang disusun oleh Abu Maryam Muhammad Al-Jaritali, berjudul Man Hum Ahlus Sunnah wal Jama'ah? [1] Tulisan ini bersifat ringkas, tetapi komprehensif, dan merujuk pendapat-pendapat para ahli ilmu dari berbagai generasi. Secara umum si penulis (re: Abu Maryam Muhammad Al-Jaritali) menjelaskan terlebih dulu makna Sunnah, lalu makna Al-Jama'ah, kemudian menjelaskan definisi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Di sini, ...

History of the name "Ahlus Sunnah wal Jama'ah"

ISTILAH   Ahlus Sunnah wal Jama'ah  (ASWAJA) sudah populer di kalangan kaum Muslimin, sejak zaman dahulu sampai zaman sekarang. Istilah ini kadang digunakan para ulama untuk membedakan antara pemahaman yang lurus dengan paham-paham menyimpang, seperti Khawarij, Syiah, Mu'tazilah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah, Mur'jiah, dan lain-lain. Namun kadang ia dipakai untuk membedakan dengan kelompok Syiah. [1] Kalau dicermati, asal-usul istilah ASWAJA tidak lepas dari hadits-hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam  yang dikenal dengan sebutan "Hadits 73 Golongan" atau "Hadits Iftiraqul Ummah." Bahkan dari sanalah kemudian para ulama mengenalkan dan mempopulerkan istilah ASWAJA tersebut. Terkait hadits-hadits seputar Iftiraqul Ummah  ini, Syaikh Abdul Qahir bin Thahir Al-Baghdadi rahimahullah  mengatakan, "Hadits yang diriwayatkan seputar Iftiraqul Ummah  banyak sanadnya, ia telah diriwayatkan dari Nabi oleh jama'ah para Sahabat, seperti Ana...

Pendapat Para Senior tentang Iman

MANUSIA  memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Yang paling utama dan paling tinggi derajatnya adalah para Rasul ulul 'azmi , dan yang paling rendah derajatnya adalah ahli tauhid yang mencampur-adukkan amal baik dan amal buruk. Di antara keduanya terdapat banyak sekali tingkatan dan derajat yang hanya diketahui oleh Allah semata. Karena Dialah yang menciptakan dan memberi mereka rezeki. Manusia memiliki perbedaan dalam tingkatan iman di hati. Selain perbadaan iman di dalam hati, amalan-amalan iman lahiriah mereka juga pun berbeda-beda. Bahkan, mereka berbeda dalam satu amalan yang mereka semua lakukan di saat yang sama dan di waktu yang sama. Di antara dalil-dalilnya adalah firman Allah dalam Al-Qur'an yang berbunyi, yang artinya: "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaik...

Fluktuasi Iman

IBNU ABDILBARR berkata, "Iman bertambah dan berkurang". Inilah keyakinan yang dianut sekelompok ahlus sunnah, fuqaha, dan ahli fatwa dari berbagai wilayah. Di antara dalil-dalilnya adalah firman Allah, yang artinya: "Untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)."   (QS. Al-Fath: 4) Dan firman-Nya, yang artinya: "Dan yang demikian itu menambah keimanan dan keislaman mereka."   (QS. Al-Ahzaab: 22) Nabi shalallahu 'alaihi wasallam  bersabda kepada kaum wanita, "Aku tidak melihat wanita-wanita kurang akal dan agama, namun mampu mengalahkan orang-orang berakal, melebihi kalian."  [1] At-Turmudzi berkata dalam bab kesempurnaan iman bahwa, "Iman itu dapat bertambah dan berkurang."  Selanjutnya dalam bab ini, At-Tirmidzi menyebutkan hadits Aisyah ia berkata, "Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik budi peke...